Sunday, July 19, 2009

Tidak Menjadi Batu Sandungan

Sunday, November 16, 2008
Tidak Menjadi Batu Sandungan
Saat pergi ke kantor, pulang kantor atau ke mana pergi dengan berkendara. Saya seringkali menjumpai pengendara-pengenda ra lain yang dengan seenaknya menyalip saya ataupun kendaraan lain tanpa memperhatikan keselamatan atau perasaan orang lain yang menjadi korban penyalipannya. Seringkali saya jengkel karena menjadi korban penyalipan, kadang saya hanya bisa mengusap-usap dada saya sambil tidak abis pikir kok tega-teganya dia melakukan penyalipan itu pada saya.



Suatu waktu saya pernah juga saya emosi hingga tidak ada yang mau mengalah hingga akhirnya terjadi adu mulut, alasan yang dikemukakan si penyalip bahwa ia buru-buru, saya gak mau kalah saya bilang siapa sih yang gak buru-buru pagi-pagi begini, kalau gak mau buru-buru kenapa gak berangkat lebih pagi saja. Akhirnya peristiwa ini berlalu saja tanpa ada penyelesaian.



Pernah juga suatu kali saya menemukan ada pengendara motor yang terjatuh karena tidak sabar dan berusaha menyalip sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, syukurlah keadaan jalan pada saat itu sepi dan si pengendara mobil menjalankan kendaraannya dalam kecepatan rendah jadi kecelakaan tersebut tidak terlalu fatal walaupun ya...tetap saja sakit juga kalo jatuh dari motor.



Saat lampu menyala merah, para pengendara sepeda motor - kadang-kadang saya juga - menyelip berusaha mencari celah walau sesempit lubang jarum yang penting bisa masuk untuk sampai di jajaran paling depan, seringkali mengambil jalur kiri yang diperuntukkan untuk kendaraan yang hendak belok ke kiri, demi suatu hal cepat sampai di tujuan terang saja pengendara yang hendak berbelok ke kiri jadi sewot.



Saya juga pernah jatuh dari sepeda motor saya karena jalanan yang licin akibat tangki diesel milik sebuah bus bocor dan cecerannya membasahi jalan. Saat jatuh saya ditolong oleh tukang-tukang ojek yang mangkal dekat situ. Ternyata saya adalah korban ke sekian yang ditolong oleh para tukang-tukang ojek, karena beberapa menit yang lalu sudah ada dua orang yang menjadi korban. Saya gak abis pikir koq bisa-bisanya tangki itu gak diperiksa dulu sebelum bus dijalankan trus si sopir baru sadar setelah beberapa pengendara memberitahukan hal tersebut.

Belum lama ini saya ngobrol-ngobrol dengan seorang teman sekantor yang juga pernah menjadi korban ganasnya lalu lintas Jakarta. Kita sama-sama mengeluh, tapi ada hal yang dikemukakannya yang menurut saya sangat inspiratif.



Dia memulai ceritanya dengan penyakit stroke yang menyerangnya saat ia berusia akhir 30 tahun, sehingga beberapa syarafnya menjadi tidak berfungsi hal ini membuat sang kawan tersebut agak kesulitan untuk melakukan beberapa hal yang menurut kita remeh tapi baginya sulit. Setelah stroke menyerangnya terjadi perubahan yang cukup drastis. Yang tadinya ia sering mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi sekarang ia harus mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan normal, yang tadinya bisa selip sana selip sini, slonong sana slonong sini sekarang ia menjadi pengendara sepeda motor yang tertib karena koordinasi antar syaraf yang telah rusak.



Ia berkata bahwa sekarang ia tidak bisa seperti dulu lagi tapi sekarang ia bersyukur karena ia tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.



“Kalau kita tidak bisa menjadi berkat bagi orang lain, setidak-tidaknya janganlah kita jadi batu sandungan bagi orang lain” demikian katanya. Saya terus terang tersentak mendengar kata-katanya, saya lalu bercermin diri karena seringkali saya menjadi batu sandungan bagi orang lain ketimbang jadi berkat bagi orang lain. Di jalan sering kali saya mengumpat dan memaki jika saya disalip oleh pengemudi lain, saya sering membuat orang lain senewen kadang juga istri saya senewen karena cara mengemudi saya yang membuat jantungnya berolahraga.



Selepas ngobrol-ngobrol itu saya berusaha tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain terutama di jalan tapi itu berat banget. Gila betul pikir saya tidak jadi batu sandungan saja sudah sulit gimana jadi berkat. Godaan-godaan banyak sekali muncul sampai kadang-kadang saya mengeluh. “Ya Tuhan saya kan gak minta yang besar-besar dan muluk-muluk yaitu jadi berkat bagi orang lain, saya Cuma minta supaya tidak jadi batu sandungan bagi orang lain”



Namun kembali muncul suara nun jauh di dasar hati saya. “Singkirkan dulu batu-batu sandungan yang ada dalam dirimu baru kamu bisa tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain”. Wah benar juga pikir saya. Sering dalam hati kita, kita temukan batu-batu mo batu yang segede apa tau sampai kerikil-kerikil yang sering nyelip di sela-sela sepatu kita pasti ada aja batu-batu itu. Saya pikir saya harus berdamai dengan diri sendiri dulu baru batu-batu itu perlahan-lahan bisa disingkirkan dan kita bisa tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain bahkan lebih, kita bisa menjadi berkat bagi orang lain yang kita temui, siapapun dia.



Kalo menurut saya batu-batu tersebut misalnya dendam, iri, dengki, egois dan segala turunannya yang buruk-buruk gitulah. Ada hal-hal yang sebenarnya belum kita bereskan yang akhirnya bertumpuk-tumpuk hingga masuk ke bawah sadar kita menjadi paradigma kita dalam memandang sesuatu. Atau bahasa yang lebih indahnya kita belum berdamai dengan diri kita sendiri. “Kan mustinya dia begini jangan begitu dong ke kita”. “Kamu seharusnya ngerti dong kalo saya tuh maunya begini bukan begitu”. Saya pikir benar juga, kita mungkin memahami suatu masalah dari kacamata kita sendiri dari paradigma kita sendiri, tapi apa pernah kita memandang dari kacamata atau paradigma orang lain terhadap suatu realitas yang sama? Atau apakah kita tahu dan sadar betul bahwa apa yang kita lakukan itu baik adanya untuk semua pihak bukan untuk pihak saya? Atau pernahkah kita memahami orang lain sebelum kita minta dipahami oleh orang lain.



Yang menariknya setelah berusaha cukup keras dan harus membuang batu-batu dalam hati, saya itu saya lebih nyantai dan tenang dalam menghadapi masalah-masalah di jalan. Peduli kalian mo kebut-kebutan, ..gi dah sono, toh ntar ketemu lagi di depan, gimana nggak wong jalanannya macet ato kena lampu merah. Gi deh sono kebut-kebutan ntar juga harus pelan karena jalanan di depan bopeng-bopeng atau ada polisi tidur yang melintang menghadang. Biarin aja kalian ngebut-ngebut toh tiba lebih cepat yang kalian damba-dambakan harus dibayar oleh jantung yang berolahraga high impact aerobic syukur-syukur kalo gak kecelakaan. Kayaknya untuk hal yang satu ini saya jadi teringat pepatah Jawa alon-alon waton kelakon. Lebih baik biasa-biasa aja tapi gak cepat sakit syaraf karena stress dan yang penting lebih safe.

Toko Suami

Wednesday, October 15, 2008
Toko Suami
Sebuah toko yang menjual suami baru saja dibuka di suatu kota dimana wanita dapat memilih suami.

Diantara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut.
"Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI"

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan sebuah calon kelompok suami.

Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai lelaki tersebut. Bagaimanapun, ini adalah semacam jebakan. Kamu dapat memilih lelaki di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan syarat tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko..Lalu, seorang wanita pun pergi ke toko "suami" tersebut untuk mencari suami..

Di lantai 1 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 1 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan dan taat pada Tuhan

Wanita itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 2 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 2 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, dan senang anak kecil

Kembali wanita itu naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai 3 terdapat tulisan seperti ini :
Lantai 3 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,
senang anak kecil dan cakep banget.

'' Wow'', tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan

Lantai 4 : Lelaki di lantai ini yang memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan, senang anak kecil, cakep banget dan suka membantu pekerjaan rumah.

''Ya ampun !'' Dia berseru, ''Aku hampir tak percaya''

Dan dia tetap melanjutkan ke lantai 5 dan terdapat tulisan seperti ini:
Lantai 5 : Lelaki di lantai ini memiliki pekerjaan, taat pada Tuhan,
senang anak kecil,cakep banget,suka membantu pekerjaan rumah, dan memiliki rasa romantis.

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah kembali ke lantai 6 dan terdapat tulisan seperti ini:

Lantai 6 : Anda adalah pengunjung yang ke 4.363.012. Tidak ada lelaki di lantai ini.Lantai ini hanya semata-mata bukti untuk wanita yang tidak pernah puas.

Terima kasih telah berbelanja di toko "Suami".
Hati-hati ketika keluar toko dan semoga hari yang indah buat anda.

Peter % Tina

PETER & TINA

Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan
apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang
asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa
berbagi
waktu denganku."

Peter: "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita
berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"

Peter: "Eh? permainan apaan?"

Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi
pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter: "baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa
bulan ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini
akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi
maen deh. katanya film itu bagus"

Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke
karaoke ya...
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang
malam harinya)

Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,
suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa
hati
mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah
kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang
sahabat Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli
sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di
foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai
berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter.
Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling sebelumnya.
Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay.
Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan
bintang dalam pelukannya.
Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin
berpadu
dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang
langit, dan melihat bintang jatuh.
Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter.
Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul
dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter
terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup
lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan
mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy
bear
untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.
Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.
Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang"
kemudian peramal itu meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai.
Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang lain.
Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil
berpegangan
tangan,
merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka.
Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah
lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan
sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.

15:20 pm
Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja.
Kamu mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota
hari ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta
selalu macet.

15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah
panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan
itu adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari
siang,tergeletak
tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.

23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik.
Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput.
Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia
segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat
tetapi terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina
dengan
erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang
sangat dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.

Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi
sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa
memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan
pada bintang jatuh malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi
kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur
hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati
saat
meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah
99 hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku
kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...


PS:
Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan
pernah kembali lagi.

True love doesn't have a happy ending, because true love never ends....

Monday, July 6, 2009

Orang kaya tahu batas kecepatan

Saya membaca suatu buku yang membuat kita sejenak berhenti untuk merenungkan apa artinya hidup ini.., disarikan Phil Callaway

Kebanyakan dari kita , jika diberi cukup waktu untuk merenungkannya, tahu apa yang membuat hidup kita kaya, kita tahu apa yang membuat sukacita bagi diri kita, apa yang mambuat perekat bagi senyuman abadi di wajah kita, Kesulitannya adalah , kita ngebut dalam berkendaraan sehingga tidak sempat memperhatikan.

Kita terlalu sibuk bekerja lembur, Mengejar tenggat waktu, melanggar lampu merah . Dan segala hal yang membuat kehidupan kita kaya menjadi kabur

Saya tidak tahu anda., tetapi saya amat letih turun naik escalator, saya lelah membeli buku-buku picisan yang mengajarkan cara menghemat uang. Saya penat menghadapi kemacetan lalu lintas , daftar tugas , dan makan malam yang dibuat dengan microwave. Dan yang terutama membuat saya oenat adalah karena saya harus mempertukarkan hal yang ada artinya dengan yan tidak berarti… semua karena saya bergerak dengan kecepatan stress

Tetapi bagaimana caranya memperlambat kecepatan tanpa harus meninggalkan perlombaan ?
Bagaimana caranya melompat keluar dari roller coaster tanpa harus tergilas ?

Jikalau anda ingin tahu lebih banyak tentang hal ini .. silahkan subscribe , dan kita akan bahas hal ini satu demi satu..

test